9/24/2021

BEBERAPA SAJAK SEKALI DUDUK

 JEDA


tolong tuan bayangan sisakan jeda untukku. waktu terlalu angkuh meski sudah kurayu dengan bermacam cara. aku tak boleh mati sia-sia: dalam putaran mesin-mesin raksasa, dalam rutin yang mengaratkan sisa kanak-kanak di dasar kepala, dalam amarah yang terpendam sekian lama di dada yang sompong belaka.

tolong tuan bayangan sisakan jeda bagiku untuk menangis sebentar saja. agar aku bisa lagi tahu rasanya haru, dan berbahagia karenanya. sebelum malam menjemput. sebelum pagi menggugahku lagi untuk bersiap menjadi roda mesin raksasa, serta menuntaskan perkara mustahil lainnya.


September, 2021


9/16/2021

TERLANJUR ADA

Apa yang membuatmu mengira perjalanan ini layak dilalui? Sementara pada persimpangan yang entah ke berapa itu, selalu saja kautemui masa lalumu singgah menunggu entah siapa. 

Seberapa besar kemungkinan supaya kita selamat sampai tujuan? Tak ada jaminan, kecuali kita tetap percaya. Lagipula siapakah gerangan Ia yang hendak kita tuju itu? Mengapa pula kita turuti kehendak seseorang yang telah meninggalkan kita sejak lama?

Perjalanan ini adalah nasib buruk yang tak terelakan, katamu demikian. Sebab terlalu banyak pertanyaan di kepala kita, bahkan sejak kita berada di rahim Hawa.

9/11/2021

PESAN UNTUK MASA DEPAN

Sabtu, 11 September 2021


Masuk ke pertengahan September yang basah, saya masih berkegiatan di rumah. Sekarang pukul 22:46 saat saya menulis surat ini.

Untuk diri saya di masa depan, semoga Anda masih punya ketabahan dalam menerima segala masa lalu yang saya lakukan hari ini. Barangkali saya hanya ingin mengingatkan Anda tentang hal-hal yang kelak bisa Anda lupakan. Namun, sekarang hari semakin aneh dan sulit ditebak. Waktu semakin angkuh dan bagi saya sekarang tak ada siasat lagi selain mengikuti arah jarumnya. 

Sekarang saya berpikir bahwa semuanya akan melunak pada waktunya. Kini atau nanti, akan banyak kompromi dalam hidup ini. Sekarang saya sedang belajar mengendurkan sabuk-sabuk ego di kepala. Merelakan hal-hal yang tak punya nilai pragmatis. Sebab, banyak tanggungjawab yang tak mungkin dihadapi dengan keras kepala.

8/24/2021

PERIODE BIRU

birunya biru

kanvas berdebu

tokoh-tokoh keluar dari lukisan

dari ingatan yang perlahan pudar

Pablo menarik kuasnya

duka tercipta

semua mata terbuka!

tapi tak seorang pun

AKU TELAH MATI


aku ingin merindukanmu

tapi aku telah mati.

aku ingin menghabiskan diriku dalam tangis

dalam rumput-rumput yang runduk

di antara telapak kaki ibu

aku ingin menjadi angin malam

di antara tawa orang-orang

dalam kendaraan menuju pulang

7/25/2021

ARSCAVE VOL. 1


ARSCAVE adalah laman dokumentasi gambar di instagram yang digerakkan sejak 2016. ARSCAVE Vol. 1 merupakan buku mewarnai untuk dewasa. Berisi 117 sketsa setengah jadi yang bisa diwarnai secara digital maupun cetak/manual.

6/30/2021

PETANI


di akhir Juni yang mendung, petani murung saat menghitung kembali rumus tanam-tuai. pada satu waktu, apa yang ia panen, tak sebanding dengan upaya merawat bibit-bibit itu. tanaman patuh di kaki cuaca, dan petani musti tabah menerimanya.

6/15/2021

MENGURAI RAMBUT YANG PANJANG


Aktivitas cukur rambut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia. Ada yang menjalaninya sebagai aktivitas berkala yang pragmatis belaka, dan ada pula yang menghormatinya sebagai prosesi kultural nan simbolis. Di era modern, orang telah lebih bebas cukur untuk mendapatkan model rambut tertentu. Barangkali sebagai tanda ekspresi diri, alasan kesehatan, paksaan pekerjaan atau sekolah, atau pelampiasan setelah putus cinta. Pada aktivitas yang sebagian orang menganggapnya sepele itu pula, terdapat emosi yang melekat setelahnya. Barangkali perasaan puas karena si tukang cukur berhasil mewujudkan potongan rambut ideal sesuai keinginan kita, atau perasaan menyesal karena potongannya terlalu pendek, atau justru perasaan biasa saja karena bercukur hanya kita anggap sebagai aktivitas rutin belaka. Segala tetek bengek cukur rambut yang kita alami di era modern ini, nyatanya hanyalah problematika individu yang meski separah apa pun pengalaman cukur rambut yang pernah kita alami, tidak akan mengubah tatanan sosial, politik, ekonomi, atau agama. Lagipula, mungkin kita berpikir orang iseng mana yang menganggap ‘cukur rambut’ punya (atau pernah punya) andil dalam pergerakan kolektif secara global. Namun, sebenarnya pemikiran itu bukanlah takhayul belaka, bila seorang iseng lainnya mau menulis semacam esai ‘sejarah cukur rambut’ secara jujur dan objektif. Meski entah untuk apa. 

6/09/2021

MENCEGAH KEWARASAN DINI



Barangkali ia hanya tengah berlari dari hal-hal yang terjadi, yang tak pernah ada dalam rencananya. Seperti menikmati sarapan lalu menyiram tanaman, padahal masih ada sisa pekerjaan dan pertemuan di dalam gawai yang berdentang semenit sekali. Seperti pergi ke bioskop sendirian di minggu malam, menenggelamkan diri pada film laga di layar besar, sebelum besok ia harus kembali menjalankan sandiwaranya sendiri. Barangkali ada kisah cinta yang relevan di dalam film itu, atau sekadar membuatnya teringat pada kekasih di masa sekolah dulu. Setidaknya, ada imajinasi instan yang masih bisa ia alami layaknya manusia normal memanfaatkan fungsi otaknya secara sadar, sebelum realita esok pagi membabat habis lampu-lampu warna warni di dalam kepalanya. Apakah ada pelajaran lain yang bisa ia bawa pulang dari film itu? Barangkali ada, tapi tak sempat direnungkan dengan sungguh, sehingga segera hilang dalam tumpukan berkas tugas. Mungkin ada narasi dari film itu yang bisa dijadikan bahan obrolan besok hari, atau entah kapan, atau sekadar menjadi referensi untuk permasalahan yang mungkin terjadi suatu hari nanti. Lagipula, pada siapa ia harus berbagi? Mungkin pada dirinya sendiri kalau nanti dia lupa dan berusaha mengingatnya untuk membuang waktu. Mungkin perjalanan dari bioskop ke rumah akan menjadikan waktu terasa lebih lambat, seperti pada suatu tempat di luar angkasa, seperti kata seorang fisikawan yang menyimpulkan bahwa waktu dapat dibengkokkan oleh gravitasi. Apakah masih ada minat membaca sehalaman-dua halaman buku sesampainya di rumah? Ia akan menanyakan itu selalu kepada dirinya sendiri. Seperti biasa, jawabannya tidak. Tampaknya banyak hal yang lebih instan untuk dinikmati belakangan ini. Humor instan dari youtube atau instagram, empati instan yang tak berdampak apa pun dari berita-berita tragedi penuh tendensi, optimisme instan dari kutipan kata-kata fisluf atau pembicara yang sebenarnya tak ia tahu siapa mereka, atau orgasme instan dari situs porno langganan. 

5/31/2021

CERPEN: KICAU KACAU




Sinar matahari merangkak malas ke atas genting yang lembap. Pagi tampak sempurna jernih. Awan bergerak pelan di atas perkampungan. Suara motor dan klakson penjual sayur sesekali terdengar. Kandang-kandang burung tergantung rapi di bawah tralis besi, di halaman sebuah rumah. Burung-burung murai aduan di dalam kandang-kandang itu mulai berkicau sahut-menyahut dengan lincah.